AKU BANGGA JADI MUALLAF
Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Saya adalah seorang gadis yang berlatar belakang keluarga penganut Nashrani. Tentunya, setiap hari Minggu kami sekeluarga pergi ke gereja untuk beribadah. Keluarga saya termasuk pemeluk Nashrani yang taat dan rajin beribadah. Kami tak hanya mengikuti ibadah minggu, namun kami juga mengikuti ibadah di luar gereja. Akan tetapi, pada saat saya dan kakak masih balita, kami tidak diperkenankan oleh ayah untuk dibaptis, karena jika kami telah dewasa kamilah yang menentukan agama kami sendiri. Selain itu, kami termasuk keluarga yang dikenal kaya oleh tetangga kami. Bagaimana tidak, kami memiliki sebuah mobil yang bagus, setiap malam kami makan di sebuah mal terkemuka di kota, dan apa yang kami inginkan hanya tinggal menunjuk saja, maka barang itu sudah dapat kami miliki.
Namun ketika saya berumur 8 tahun, ayah mengatakan kepada saya dan kakak bahwa ayah dan ibu akan menjadi penganut agama Islam. Ayah kemudian menawarkan kepada kami untuk ikut menganut agama Islam. Mendengar hal itu, kami pun dengan senang hati menerimanya, karena pada saat itu saya masih kecil, dan pada saat itu pikir saya adalah jika saya menganut agama Islam, maka saya akan mendapatkan teman yang banyak.
Keinginan ayah untuk menganut agama Islam dimulai ketika ia merasa ibadahnya itu-itu saja. Mulai dari ke gereja, duduk, mendengarkan ceramah yang isinya juga itu-itu saja. Selain itu, ayah merasa pedoman yang digunakan hanyalah buatan manusia yang berisi tipuan belaka. Dan semua itu tidak bisa menjawab ratusan pertanyaan yang ada dikepalanya.
Kegembiraan kami dalam menjadi kaum muslimin tidak berhenti sampai disitu, kami mengalami banyak kemunduran dalam segi harta maupun mental. Kami yang pada awalnya keluarga yang dikenal kaya di kalangan tetangga kami, menjadi keluarga yang dikenal hidup pas-pasan. Para tetangga yang pada awalnya sangat menghormati kami, berubah mencibir kami. Para tetangga kami bagaikan seekor serigala berbulu domba. Tidak hanya mereka, tapi banyak orang disekitar kami yang mulai memusuhi kami. Ayah saya terkena PHK ditempat kerjanya. Kami yang terbiasa makan makanan cepat saji dan restoran berubah menjadi keluarga yang tiap harinya makan-makanan seadanya, atau nasi dan tempe beserta sambal. Pernah, pada suatu hari saya dan ayah kehabisan uang, bahkan menemukan selembar uang seribu rupiah amatlah menyenangkan, dan sebagian besar uang kami hanyalah recehan-recehan rupiah yang biasanya sering tak dihiraukan banyak orang. Akhirnya kami berdua hanya bisa membeli 1 kilo beras dan 2 bungkus mie, dan bahan makanan itu harus dihemat hingga 2 hari ke depan. Subhanallah, entah kenapa makanan itu begitu mengenyangkan dan sangat nikmat. Dan setelah bahan makanan kami habis dan sedikit kebingungan, syukur alhamdulillah teman ayah saya memberikan uang sebesar 500 ribu!!! Subhanallah, mukjizat apalagi ini?! Kejadian itu hanyalah secuil dari bongkahan kisah kami yang menakjubkan.
Hingga pada saat ibu saya mengenakan jilbab, saya hanya biasa-biasa saja dalam menanggapinya. Namun, pada saat saya kelas 2 SMP, saya mengalami krisis percaya diri dalam diri saya, saya merasa tidak percaya diri dalam bersikap hingga berdandan. Dan saya merasa penampilan saya aneh. Dan yang lebih parah lagi, saya merasa telanjang, padahal saya sudah berpakaian serta kenyataannya tidak seperti yang saya risaukan. Kemudian, saya mengalami alergi gatal terhadap debu di lengan saya.
Hal itu bertahan hingga saya kelas 1 SMU. Saya melihat teman saya yang mulai memakai jilbab, kemudian kakak dan ibu saya yang mulai mengingatkan saya untuk mengenakan jilbab. Dan pada awalnya saya tidak menghiraukannya, namun lama kelamaan saya berpikir, mungkin ini jawaban saya dalam menghadapi masalah alergi, percaya diri, dan setumpuk kegelisahan saya selama ini. Lagi-lagi keinginan itu terhambat dengan muncul statemen di pikiran saya bahwa memakai jilbabnya saat saya sudah menikah saja. Lalu saya berpikir ulang lagi, mungkin kalau saya masih hidup hingga saya menikah, saya bisa menerapkannya, tapi bagaimana kalau sebelum menikah dan belum mengenakan jilbab saya sudah meninggal duluan? Padahal kematian itu Allah Ta’ala yang mengatur.
Akhirnya, selama hampir 1 tahun saya mengalami perang batin dalam diri saya, saya pun meminta ibu saya untuk membelikan seragam berlengan panjang. Teman-teman saya pada saat itu banyak yang terkejut. Pada awalnya, saya hanya mengenakan jilbab gaul yang ukuran jilbabnya hanya sebatas bahu saja ataupun ketat. Karena pada saat itu yang ada dipikiran saya bahwa jilbab hanyalah penutup seluruh tubuh beserta kepala saja. Kakak saya yang berada di luar kota untuk sekolah pun amatlah senang setelah mendengar bahwa saya mengenakan jilbab. Sampai-sampai setiap pulang kerumah, ia selalu membawakan buku-buku tentang Islam dan sebagainya, selain itu kakak juga memberikan banyak motivasi kepada saya. Dan lama-kelamaan saya mengerti tentang ilmu agama, dan saya pun akhirnya mengerti bahwa jilbab tidak hanya sebagai penutup kepala saja. Namun jilbab haruslah menutup seluruh tubuh, tidak ketat, dan tidak transparan. Setelah mengetahui hal itu, jilbab saya makin hari bertambah panjang hingga menutupi lengan. Teman-teman bahkan guru saya mulai memandang aneh pada saya. Namun saya tak pernah menghiraukan mereka, walaupun banyak cacian dan hinaan dari beberapa teman yang menghiasi hari-hari saya disekolah. Tak lupa saya juga mengingatkan teman-teman saya tentang syariat-syariat Islam, tapi banyak dari teman saya yang tidak menghiraukan saya. Alhamdulillah, kesabaran saya berbuah juga. Beberapa teman saya akhirnya mau menerima dakwah kecil-kecilan saya hingga saya lulus SMU.
Tentunya, setiap siswa SMU ingin memiliki universitas impian. Tapi berbeda dengan saya. Sikap saya yang pesimis akan memasuki universitas impian muncul karena keadaan ayah saya yang belum juga mendapatkan pekerjaan. Sesungguhnya Allah tidak akan menguji seorang hambanya jika hambanya tidak mampu melakukannya. Dengan penuh rasa terpaksa saya mengikuti tes ujian masuk universitas karena dorongan orang tua. Dalam menunggu hasil tes, saya terus berdo’a agar saya diberikan pilihan yang terbaik oleh Allah. Dan syukur Alhamdulillah, setelah ayah saya tidak bekerja selama kurang lebih 6 tahun, akhirnya ia diterima bekerja disebuah perusahaan mesin. Tak henti-hentinya kami bersyukur. Allah Maha Kuasa. Setelah menunggu beberapa minggu, akhirnya saya diterima diuniversitas impian saya. Sungguh, kenikmatan apalagi ini?!
Ketika saya mulai menapaki jenjang universitas, saya bertemu teman-teman muslimah lain yang sangat menyenangkan. Saya mulai memiliki banyak teman di beberapa universitas dengan mengikuti kajian-kajian Islam. Sehingga bertambah kuatlah cinta dan keinginan saya untuk belajar tentang Islam. Dan jilbab saya pun makin bertambah panjang pula. Dan pastinya, teman-teman dikelas dan orang-orang disekitar saya pun juga makin merasa aneh melihat saya. Tapi lama-kelamaan, teman-teman dikelas saya tidak lagi melihat penampilan saya dan baik kepada saya. Namun walaupun banyak orang-orang disekitar saya yang masih mencaci saya. Dan bagi saya, cacian mereka bagaikan penghapus yang menghapus dosa-dosa saya. Insyaallah.
Saat saya menulis cerita ini saya menyadari, bahwa kehidupan glamor saya pada saat saya masih belum beragama Islam hanyalah impian belaka dan penuh dengan tipuan. Selain itu, kami merasa tidak tenang dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Karena menurut pengalaman yang saya alami, jika kekayaan dunia itu tidak diatur dengan berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka semua itu tidak ada artinya dan hanya kenikmatan sesaat yang bisa menjerumuskan seseorang ke dalam siksa untuk selamanya. Walaupun saya dan keluarga kini hidup sederhana, namun kami sungguh bahagia, dan kami juga merasa lebih tenang dan nyaman dalam menghadapi kehidupan keseharian kami.
Mungkin orang melihat kami adalah orang yang tergolong tidak mampu, namun kami merasa kaya. Karena jika seseorang itu merasa miskin, maka ia adalah miskin, tapi jika ia merasa kaya, maka ia adalah orang yang kaya. Kami memang miskin harta, tapi kalau soal iman, kami tidak boleh miskin. Didunia kami memang tak punya harta, tapi kami terus berharap dan berdo’a, agar Allah akan membangun istana untuk kami disurga. Segala sesuatu jika disyukuri pasti akan nikmat, namun janganlah lupa untuk berusaha. Saya dan keluarga percaya, bahwa Allah akan menguji hambanya sesuai dengan kemampuan hambanya. Namun hingga saat ini, saya masih merasa iri kepada teman-teman saya yang lahir dalam keadaan beragama Islam. Ingin rasanya saya mengalami hal yang serupa. Tak apalah saya lahir dalam keadaan bukan seorang Muslim, tapi jika ditanya soal iman, keimanan saya tidak boleh kalah dengan mereka. Selagi jantung masih berdetak, maka saya tidak boleh lelah dalam beribadah dan terus berlomba-lomba dalam kebaikan. Karena kita didunia ini kita hanya numpang ngiyup saja, lalu kembali melanjutkan perjalanan. Sungguh, Allah Maha Agung, Maha Kuasa, dan segala-galanya bagi kami. Bagi saya, menjadi seorang Muslim merupakan kenikmatan luar biasa yang belum pernah saya dapatkan sebelumnya dan tak bisa digantikan dengan apapun.
Wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh
— Ummu Zakiyah, Surabaya —
Add comment April 29, 2009
becozofyou
Tags: lebih baik orang yang berilmu sedikit tapi mengamalkan dan terus belajar daripada banyak ilmu tapi tak mau mengamalkan dan mudah puas akan ilmunya
Ta’aruf yuuukz,,,,
Assalaamu’alaikum warohmatullohi wabarokaatu
Bismillahirrohmaanirrohiim.
With love, kami hadir untukmu, saudara…
untuk berbagi kisah kehidupan dalam satu renungan,
untuk menyatukan nafas demi satu tujuan,
untuk membisikkan sebuah panggilan Tuhan,
untuk merapat dalam sebuah hangat dekapan, dan
untuk menebar seberkas kasih sayang…..
hyaaa…, wiz2 nangise!! Ngono ae nangis rek2… cup2 cayank… hehe…
walah, opo tho yo iki sebenere?! Wonk edyan paling sing nulis..???
hmmm… saudara2ku sebangsa setanah air, beda bapak beda ibu (lho, ya iyalah!!), tapi seakidah rek… “Be Coz of You” lahir untuk berbagi kisah kehidupan yang 100% berasal dari pengalaman nyata sahabat kita.
Mang syapa sahabatnya? Ya yang kenal lewat friendster, lewat email, temannya temen, temen nongkrong di warung, temen kos2an, walah… pokoke sak kenale lah! Hehe…
Upz! Ada yang kelupaan nich! Kalian pasti nyangkanya “Be Coz of You” tuch isinya soal cinta2an khan? Nggak lagi cayank.. (hyekz, huek! He…) “You” yang dimaksud dalam hal ini tdk lain tdk bukan adh ALLAH SWT. Isinya? Tujuannya? Tujuannya ya bwt ngajak antum sekalian untuk merenungkan kisah nyata yang ada di dalamnya agar menjadi ikhtibar bagi cmuah….
so, check it out!!
1 comment Februari 18, 2009
becozofyou